PEMUDA YANG RESAH PART IV
RUMIT
Cerita ini aku alami dengan nyata disaat beranjak usia ku 15-20th, awalnya aku mengira aku sendirian merasakan hal ini tapi ternyata beberapa orang di luar sana juga merasakan hal yang sama, terbukti dari seorang Mahasiswa yang kala itu sedikit lama berbincang dengan ku. Awalnya kami hanya berbincang biasa seputran perkuliahan dan lingkungan pertemanan yang kami jalani masing masing, sampai pada akhirnya dia menceritakan tentang apa yang dirasakan akhir-akhir ini.
Dia sering kali tidak percaya diri dengan apa yang dia punya, dia kadang lupa tentang hal besar apa yang telah dia lakukan sehingga beberapa orang di sekitar memandangnya sebagai seseorang yang bisa diandalkan, dia kerap kali menganggap dirinya hanyalah beban bagi orang lain, namun pada kenyataannya jauh berbeda dengan perkataannya itu. Dari sudut pandang ku dia seorang yang bertanggung jawab atas apa yang telah diberikan padanya, dia orang yang cerdik yang bisa mencari solusi dengan cepat agar semua berjalan dengan baik.
Sampai suatu moment ketika sedang berbincang dengannya aku menayakan
“Apa yang membuat mu mengatakan bahwa kamu itu hanyalah beban?”
Awalnya dia menjawab dengan ragu dan seakan tidak ingin menceritakan apapun kepada ku, ya wajar mungkin aku juga baru pertama kali berbincang dengannya selama itu, dia pun menceritakan beberapa hal yang dia alami selama beberapa waktu lalu.
Memerhatikan dia berbicara aku menyimpulkan ada beberapa hal yang sedang dia rasakan diantaranya Rasa egois, merasa gagal, merasa diperlakukan tidak adil, dan kerap kali merasa dibandingkan dengan saudaranya sendiri. Awalnya aku sedikit prihatin terhadap apa yang dia rasakan itu namun setelah aku ingat kembali, itu suatu hal yang memang umum dirasakan oleh anak yang berusia 15-20th sepertinya, dimana mereka sering melakukan kesalahan di luar kontrol mereka dan orang tua kerap kali mengungkit dan membatasi setiap hal yang ingin mereka lakukan.
Aku paham dominannya remaja seusia itu memang sedang melewati masa pubernya mereka sedang mencari jati diri mereka ingin ke arah mana. Dulu saat seusia dia aku juga kerap kali menuntut orang tua ku mendukung apa yang aku inginkan walaupun aku tidak tahu terhadap dampak kedepannya bagaimana dan hal itu baik atau buruk untuk aku lakukan. Aku selalu saja cemburu ketika melihat orang lain yang bernasip lebih baik dari ku bahkan saudara kandung ku sekali pun yang terlihat lebih di utamakan ketimbang aku, hal semacam itu sangat sulit aku terima dengan sikap ego ku saat itu.
Aku selalu saja berisih keras untuk mendapatkan perhatian itu dan seenggaknya orang tua ku bersikap adil terhadap semua anaknya, ego kadang seakan menghasut ku menjelaskan kalau aku memang bukan anak yang di prioritaskan dan bahkan bukan anak yang di sayang oleh orang tua ku. Kenapa orang tua seakan tidak seirama dengan jalan pikir seorang anak? Bukankan indah jika orang tua sepemikiran dengan seorang anak? Pertanyaan itu selalu saja terlintas dalam pikiran ku.
Kadang aku sangat di batasi dalam segala hal, baik itu fasilitas, maupun kebutuhan, kadang semua itu tidak terwujud seperti yang aku inginkan. Jika aku melihat saudara kandung ku di perlakukan sebaliknya kadang aku merasa iri dengan semua itu, sampai dimana titik aku merasa harus berkerja untuk diriku sendiri membuktikan bahwa aku bisa tanpa uluran tangan orang tua ku, sifat ego itu tidak dapat aku bendung, dia seakan terus menyelimuti hati dan otak ku.
Nah jika kamu merasakan hal yang sama seperti cerita ku atau ada sedikit kesamaan dari apa yang aku sampaikan di atas, aku cuma mau menerangkan semua hal itu wajar kamu rasakan memang waktunya kamu merasakan demikian rasa ego, rasa sedih, rasa kurangnya perhatian dan sikap adil itu semua pasti akan terjadi. Namun kamu tidak harus berlarut dalam perasaan yang seperti itu, cobalah memandang dari sudut pandang yang berbeda, cobalah memandang dari sudut yang positif, mulailah bertanya “Kenapa orang tua ku melakukan hal yang demikian” dan lihatlah situasi yang sedang terjadi pada orang tua mu, aku yakin seiring berjalannya waktu kamu akan menemukan jawabannya versi diri mu dan disaat itu pula kamu telah berhasil melawan rasa ego mu, disitulah kamu terlah beralih dari semua masa puber ke masa yang lebih dewasa.
Sama seperti halnya aku pada hari ini aku telah berhasil mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap semua yang terjadi dulu dan terhadap semua batasan yang diberikan oleh orang tua ku dulu, jika bisa aku simpulkan mungkin begini, yang pertama orang tua tidak pernah membeda sikap terhadap seorang anak, semua yang dia lakukan terhadap kita karena dia terlebih dulu mempelajari karakter kita agar dia tau bagaimana cara mendidik dan mengarahkan kita bagaimana.
yang kedua setiap batasan yang dia berikan itu karena dia tau apa yang akan terjadi kedepan jika dia membebaskan apa pun pilihan kita di umur yang masih mencari jati diri, karena dia terlebih dahulu melalui semua hal itu, belajar dari pengalaman, dia ingin yang terbaik untuk anaknya.
Yang terakhir tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara, tapi mereka juga tidak ingin melihat kita manja yang mereka inginkan kita survive sendiri melawan ke egoisan kita dalam menjalani hidup, tanpa kita sadari orang tua mengajarkan kita cara bertahan hidup karena mereka tidak akan selamanya menemani kita dan tidak akan selamanya bisa memfasilitasi apa yang kita inginkan.
Namun semua yang mereka lakukan itu sulit kita simpulkan ketika kita dalam masa masa peralihan itu, sudut pandang kita masih dalam hal kita ingin diperlakukan adil dan jangan pernah dibandingkan dengan orang lain. Dulu kita memandang dibandingkan dengan seseorang adalah hal yang menyakitkan tapi sekarang coba kita ubah terhadap sudut pandang ketika dibandingkan berarti orang tua ingin kita menjadi sukses dengan apa yang kita miliki dan usahakan, orang tua tidak ingin kita lemah dan bermalas-malasan, mereka selalu ingin kita bisa jauh lebih sukses dari mereka dalam hal apa pun itu.
Sedikit Saran ku di akhir bacaan ini cobalah untuk lebih terbuka dengan orang tua mu, mulailah melihat bagaimana kerja kerasnya mereka untuk menghidupi anak-anaknya, mulailah membahas sesuatu obrolan yang menyenangkan, candaan yang bisa membuat mereka tersenyum dan lupa terhadap letih yang mereka dapatkan saat berkerja, kurangi mengeluh dan cobalah untuk bertanya “apa yang bisa aku bantu?” Dan jangan malu untuk mengucapkan “terimakasih” disaat ada sesuatu hal yang dilakukan orang tua terhadap mu. Barulah disitu kamu akan paham mengapa mereka melakukan semua itu kepada mu dan kamu akan merasakan kasih sayang yang luar biasa.
Aku tidak ingin memaksa mu keluar dari hal yang sedang kamu alami tapi aku hanya mengingatkan jangan terlalu berlarut dalam keegoisan yang akan menjerumuskan mu nantinya. Semua hal yang kamu rasakan itu tidak salah tapi cobalah kamu belajar memandang dari sudut pandang yang berbeda. Menjadi dewasa kadang memang tidak menyenangkan, namun terus terusan menjadi anak-anak juga bukan suatu pilihan yang bagus untuk masa depan mu.

Komentar
Posting Komentar