EKSPEKTASI

 

Ekspektasi

Pagi menjelang siang, terik matahari seakan membuat waktu kian lama berputar, duduk di keramaian tapi memilih sendirian, menepi tapi bukan berarti mengasingkan diri hanya saja aku sedang tidak ingin berbasa basi.

Memasang headsed dan mendengarkan beberapa lagu yang ada di playlist musik di smartphone, aku rasa lebih baik untuk melawan rasa jenuh di bawah teriknya matahari dalam beberapa waktu ini.

Oiya rasanya sudah lama sekali aku tidak menulis padahal banyak sekali hal yang ingin aku curahkan melalui jari jemari yang silih berganti menekan keyboard ku ini namun ya bagaimanapun sementara waktu kebelakang ada hal yang lebih aku prioritaskan yaitu pendidikan, pendidikan bagi ku adalah yang penting dari beberapa hal lainnya salah satunya menulis mau bagaimanapun aku bisa menulis karena aku sudah melalui fase pendidikan, di didik mengenali huruf sampai menjadi satu baris yang bermakna dan dipahami.

Selama beberapa hari kebelakang banyak hal yang aku dapatkan yang bisa menjadi ide tulisan ku salah satunya pada kasus yang ingin aku ceritakan sekarang yang aku namai dengan “Ekspektasi”.

Kenapa dengan Ekspektasi?
Apa tidak boleh berEkspetasi?

Pertanyaan itu kian muncul dalam pikiran ku sendiri dan kadang aku sering bertengkar dengan Ekspektasi ku sendiri, tapi ini bukan sepenuhnya tentang cerita ku, cerita ini aku angkat sebagian dari kisah dia yang datang dan berbincang dengan ku pada pagi menjelang siang di kantin depan kampus ku kala itu.

Tatkala aku duduk sendiri di kursi dekat meja barista yang sedang berkerja menyiapkan beberapa minuman penyejuk raga yang dahaga, seorang mahasiswi yang merupakan teman ku datang dan duduk tepat di kursi sebelah ku, dengan beberapa berkas yang iya bawa aku rasa dia cukup sibuk hari ini.

Habis dari mana kamu, sibuk kali tampaknya? (Sedikit basa basi ku, karna melihat aktivitasnya)

Ini aku habis revisian dan mungkin nanti aku kumpulin proposalnya.

Ooo hooh semangat kalo gitu.

Dia kembali dengan aktivitasnya merapikan berkas-berkas yang dia bawa, setelah memesan minuman dia tidak langsung beranjak pindah dari situ. Kini disamping ku terdapat satu mahasiswi yang sedang berusaha mewujudkan apa yang ingin diwujudkan, senang melihat teman yang seperti ini.

Disela berbincang tentang seputaran proposal Skripsinya, tetiba dia bertanya kepada ku dengan pertanyaan yang aku kira itu cukup membuat aku mengerutkan dahi, bagaimana tidak pasalnya dia tanya “Selama ini yang kamu kenal dari aku dari awal mula kita berkenalan di awal perkuliahan sampai sekarang, perubahan apa yang terjadi pada ku setelah pulang dari jogja?” Nah aku kira pertanyaan macam apa itu, aku sedikit heran kenapa dia bertanya seperti itu.

Belum sempat aku menjawab dia meneruskan dan menjelaskan maksud dari pertanyaannya itu, dia merasa bahwa akhir-akhir ini ada hal yang berbeda dari respon beberapa orang terhadapnya, ada hal yang sukar untuk dia jelaskan namun bisa sangat pasti dia rasakan, aku bingung harus mulai dari mana menanggapi pembicaraannya itu sampai pada akhirnya aku meminta contoh pada permasalahan yang sedang dia alami itu.

“Sepulang dari magang, orang sekeliling menanggapi ku sebagai perempuan, bukan sebagai diri ku yang mereka kenal, bahkan mereka seolah gak pernah kenal Aku itu siapa, dan menyamakan nya dengan semua perempuan lain, Yang punya pasangan mulai memberikan jarak, seolah mau ku rebut pacarnya, yang gak punya pacar tiba tiba nyari topik pembicaraan (event itu laki/perempuan), yang perempuan ngedekat seolah kalo dekat sama ku bakal dapat pasangan, yang laki pada SKSD” 

Mendengarkan contoh itu aku mulai berpikir kalau aku pernah merasakan fase itu, fase keresahan karena diciptakan oleh buah pemikiran diri sendiri dan mungkin kalian pernah merasakan fase yang demikian, dimana kita merasa resah dengan perubahan yang orang-orang tunjukkan. Kita tidak menginginkan perubahan itu terjadi karena yang kita sudah terlalu nyaman dengan fase sebelumnya.

Memerhatikan dia berbicara aku melihat ada keresahan dalam dirinya, aku melihat ada rasa belum siap dari dirinya untuk melewati fase ini, dia masih merasa ada yang salah pada dirinya, tapi itu bukan hal yang membuat ku heran karna mungkin dulu saat aku menghadapi masalah serupa aku juga seperti dia linglung dan terus berusaha mencari apa yang salah pada diri ku yang bisa aku perbaiki dan mengembalikan keadaan seperti semula.

Tetapi semakin kesini aku semakin sadar bahwa pada dasarnya semua akan berubah jika memang sudah datang masanya untuk berubah, ada yang pernah berkata “Semuanya akan berubah,awan tak selamanya cerah dan hujan tak selamanya jatuh” nah jadi manusia mana yang engga akan berubah? Semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu. 

Aku pernah berbincang dengan beberapa orang senior di beberapa tempat, yang mungkin mereka sudah lebih dulu melewati fase ini, mereka pernah mengatakan akan ada masa dimana people come and go, mereka akan mendekati kita karna rasa penasaran dan tujuan. jika memang kita searah dengan tujuan meraka pastinya mereka akan stay dan terus beriringan dengan kita, namun jika tidak mereka akan pergi mencari seseorang yang lain dengan tujuan yang sama. Maka dari itu jangan beranggapan bahwa ada yang salah pada diri kamu tapi memang fase itu yang sedang kita jalani.

Bagi ku fase ini merupakan bagian dari pendewasaan diri, ini merupakan cara tuhan memperlihatkan tentang cara manusia survive untuk hidup, tuhan mengajarkan kita tentang menentukan pilihan termasuk dalam memilih teman.  

Yang terpenting lakukan yang terbaik versi diri mu sendiri terserah orang ingin menilai mu seperti apa, memang tidak salah jika kita ingin dinilai baik oleh semua orang tapi kita juga tidak bisa memaksakan kehendak untuk orang menilai seperti apa yang kita inginkan, mereka tidak bisa membaca pikiran kita, mereka selalu saja punya cara sendiri untuk menilai seseorang atau sesuatu, karena pada hakikatnya manusia adalah satu makhluk abstrak yang sedikit sulit kita pahami mereka berubah-ubah dan mereka bermakna. 

Pesan ku untuk kamu yang sedang merasakan fase ini tetaplah semangat dan selalu berfikir positif terhadap dirimu sendiri, jika memang ada yang salah cobalah untuk memperbaiki, jika memang tidak kamu cukup percaya pada dirimu sendiri dan jangan sampai Ekspektasi membunuh mu. 

Komentar

  1. Sejatinya sebuah tulisan itu adalah subjektif, makanya sebuah karya ilmiah wajib menyertakan tinjauan pustaka untuk menetralisir ke-subjektif-an tersebut.
    Terkadang mengisahkan orang lain dalam tulisan tidak selamanya tentang mengekspose sang empunya cerita sebagai objek, tapi menyatakan bagaimana diri sang penutur dalam menilai suatu objek, yang mungkin tanpa disadari bisa berwujud suatu penghakiman sebelah pihak, karena sejatinya penilaian itu tak melulu tentang angka, namun tentang rasa yang tak patut/mampu di rangkum dalam wujud kata kata :)
    Sehat terus buat penulis, terimakasih untuk segala rentetan sudut pandang yang telah kau torehkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk saran dan masukannya serta terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan berantakan ini.

      Hapus

Posting Komentar