Gadis Astrea

     


     Dinginnya malam di kota Banda Aceh membuat aku merasa bosan berada di rumah, sendirian dikamar tidak ada kerjaan. Teman-teman pada punya kesibukan masing-masing yang kebetulan juga sedang tidak pulang, tumben sekali rasanya mereka punya kegiatan biasanya aku yang selalu jarang pulang ke rumah karena kesibukan ku.

     Aku nyalakan dispenser dengan tujuan ingin memanaskan air untuk aku seduh secangkir kopi, aku ingin di teras rumah menikmati rembulan yang tersenyum bersama bintang yang berserakan di lagit yang begitu indah. 5 menit menunggu, air pun panas dan aku bergegas meracik kopi favoritku, kopi sasetan dengan sedikit gula karna manisnya sudah ada di aku, hahaha. Secangkir kopi telah diseduh, sebuah buku mulai ku sentuh lembarannya pertanda aku siap melewati malam yang dingin ini sendirian.

     Hembusan angin yang syahdu mengantarkan pesannya via WhatsApp ku, aku di kejutkan dengan bunyi Notifikasi pesan darinya, Ternyata dia merasakan hal yang sama kesepian juga merasa bosan, dan dia mengajakku keliling kota malam itu. Aku yang membaca itu kian merasa sukar karna kendaraan yang ku punya hanya motor astrea grand tua yang ku namai ayang, aku takut dia tak akan mau jalan jalan dengan motor tua itu jadi aku membalas pesan nya dengan mengajukan pertanyaan

    “Motor ku cuma Astrea, mau naik?”

tanpa menunggu lama aku mendapat balasan dari ya

     "Mau loh, kenapa rupanya, malah seru kayaknya".

Aku yang dengan tersenyum melihat jawaban dia langsung replay pesan ya

     "Oke aku siap siap".

    Selang waktu 5 menit setelah siap-siap aku langsung bergegas menjemput dia malam itu, ya lumanyan jauh juga sih butuh waktu setengah jam untuk aku sampai ke lokasi yang dia kirimkan. Untung tidak ada drama sesat di jalan cuma sedikit ngeri ketika masuk lorong, terus masuk gang buat akses ke depan kostan dia,

       “gelap banget woi, jalanan ke kosan mu ga ada tiang listrik apa? Minimal tarok lampu tiang kek atau apa gitu, hahaha. Tapi ya okelah yang penting aku sampai di depan kosan mu". (Cerutuku dalam hati)

    Tidak lama aku menunggu di depan, dia pun keluar dengan aura kecantikannya, dikit sih jangan banyak-banyak cantiknya. Dia langsung menuju ke arah ku dan berkata "Yok siap jalan?” aku yang masih engga percaya bertanya pada diri sendiri "Ni anak beneran mau naik motor tua ini?” dalam keadaan sedikit bingung aku menjawab "Yok naik terus" dan damn dia langsung naik di belakang ku dan benar dia menaiki si ayang eh motor tua ini maksudnya. Aku yang hanya tersenyum langsung memutar motorku dan berjalan pelan keluar dari gang kosannya.

    Di perjalanan kita ngobrol santai membahas seputaran perkuliahan dia, aktivitas ku dan ya cerita-cerita asik dia dalam beberapa kurun waktu kebelakang. Banyak obrolan menarik saat kita baru mulai jalan tidak jauh dari kosan dia, sampai dia tidak sadar bahwa ada yang mengikuti kita malam itu, entah berapa lama mereka mengikuti kita sampai dia sadar dan melihat kebelakang dan terkejut kalau itu kaka tingkat yang sempat menaruh harapan kepada dia, giliran aku yang terkejut ketika dia memberitahukan itu, langsung tingkah ku jadi ga enak sama kaka tingkatnya itu tapi katanya tidak apa apa gausah dipikirkan. Aku pun mengikuti sesuai arahannya berarti aman pikirku, hahaha.

    Selepas dari kejadian itu agar suasana tidak canggung aku menawarkannya minum ya berhubung aku juga haus, dan aku berhenti di salah satu gerobak minuman biasa kami sebut disini Rak Boba. Aku memesan 2 minuman, vanilla latte dan Taro, sembari menunggu minuman aku menanyakan perihal kaka tingkatnya tadi itu aman engga kira-kira jangan sampai dia salah paham nantinya. Dia tetap dengan jawabannya yang awal "Aman kok tenang aja", yaa aku menganggap aman aja malam itu. Setelah minuman kami jadi, kami memutuskan untuk menikmatinya sambil lanjut jalan menyusuri setiap jalanan kota Banda Aceh malam itu. Entah kenapa kota Banda Aceh terlihat berbeda malam itu lebih indah, lebih nyaman udaranya juga lebih segar, hahahaha.

    Malam pun kian larut menunjukkan pukul 22.00 WIB, aku pun mengajaknya untuk nganterin dia balik karna cuaca semakin dingin tidak baik juga buat kesehatan kami, mengingat aku juga masih ada aktivitas besok. Saat perjalanan pulang kami singgah di SPBU untuk beli minuman(bensin) buat ayang (Motor ku) setelah keliling kota ayang ku juga haus kan jadi ku kasih minum dulu. Di SPBU kami melihat beberapa orang dan kejadian yang bisa kami jadikan bahan obrolan maka itu yang kami manfaatkan untuk bahan obrolan karena memang dia biasa serandom itu.

    Usai isi bensin aku langsung bergerak mengantar dia pulang, dia berterimakasih kepada ku udah mau membawa dia jalan-jalan menyusuri kota. Dalam hati ku tidak usah berterimakasih aku juga menikmati malam ini. Saat sampai ke jembatan Lamnyong aku merasakan ada perubahan pada si ayang, jalannya terasa berbeda, ternyata oh ternyata pucuk di cinta mala petaka pun tiba ya begitu ada aja perkaranya, ban Motor ku kempes, gawat ini pikir ku, malam malam lagi.

    Aku berhenti dan mengecek ya memang kempes. Satu satunya cara aku harus mencari orang tambal ban malam itu. Aku yang agak panik karena selain susah ada bengkel malam aku juga harus mengantarkan dia pulang. Tapi satu kalimatnya yang membuat aku tenang yaitu "Santai cari aja bengkel dulu". Damn bagai tersambar petir aku langsung berkata dalam hati "Yaallah besyukur kali aku kenal ni cewe".

    Dengan meminta maaf sama dia aku pun memarkirkan motorku kesamping dan ijin untuk cari bengkel yang masih buka di sekitaran pasar, dan ya mungkin malam itu rezeki anak soleh kayak aku, aku melihat ada satu bengkel yang masih buka malam itu aku pun langsung samperin dan bilang sama abang tukang bengkel jangan tutup dulu "Pakwa bek ile neutop beuh lon ba honda long jino bucho ban ideh" (Pak jangan tutup dulu ya, bentar saya ambil motor saya dulu di sana kempes). Bapak itu pun mengiyakan permintaan ku

    Aku kembali ke motorku dan dia, ku kira dia sudah meminta di jemput sama temannya yang lain tapi ternyata dia masih menunggu dengan manis di dekat motorku. Aku tersenyum dan bilang

"di sana ada bengkel masih buka kamu sanggup jalan kaki dikit lagi?”

jawabnya dengab tersenyum "sanggub kok mau aku bantu dorong ga?”

dalam hatiku "yaallah fix gadis ini yang aku cari yaallah" hahahaha. Dengan di bantu dorong sama dia dari belakang, aku mengarahkan motorku ke bengkel yang masih buka tadi. Sekitaran 5 menit kami sampai di bengkel itu dan ban motorku langsung di tambal.

    Sambil menunggu di tambal kami tertawa mengingat kejadian yang baru saja menimpa kami, dan tiba tiba raut wajahnya berubah aku kira dia tidak senang dengan kejadian itu,

      aku bertanya "kenapa eh tiba-tiba kok berubah gitu wajahnya"

      dia terkaget dan jawab "ah engga ini kaka tingkatku ngechat, bilangin aku tega bohongin dia" "padahal kan aku ga pernah bohongin dia" tuturnya dan nyimpan Hpnya kembali.

    "Dek udah siap ni"

kami di kagetkan dengan suara bapak penambal ban yang mengarahkan bahwa ban motor ku sudah di tambal. Aku pun segera mengambil motorku dan mengajak dia untuk lanjut ku antar pulang. Dia pun langsung naik dan bergegas aku antar dia pulang ke kosannya. Setelah sampai di kosannya aku langsung bergegas pulang karena tidak enak masih disitu sudah larut.

    Disepanjang perjalanan pulang ke rumah aku senyum senyum sendiri mengingat ternyata ada orang yang mau naik motor tua ini dan tentang kisah malam ini, indah sekali. Sesampainya di rumah aku langsung cuci muka juga cuci kaki. Dan membuka hp yang ternyata sudah ada pesan dari dia

"Terimakasih untuk malam ini ternyata jalan jalan dengan motormu itu seru juga ya, kota malam ini juga terasa sangat indah. Nanti kapan kapan kita jalan jalan lagi ya."

Aku yang membaca itu seakan ingin terbang dan melayang, hahahaha.

    Terimakasih untuk kamu cewek astrea terimakasih untuk semua cerita malam itu,maaf kalo buat kamu sedikit capek.

Komentar